Sering Mendapat Kekerasan, Mualaf Inggris Memilih Pindah

mualaf-ilustrasi-_141007040538-294

Mualaf Inggris yang juga ibu dua anak Joni Clark memilih pindah dari Penge di tenggara London ke Whitechapel di timur London lantaran aksi kekerasan Islamofobia yang ia terima. 

“Saya menerima kekerasan setiap waktu,” ujarnya. “Serangan itu sangat memengaruhi anak saya, dan saya khawatir dengan keselamatan anak, jadi saya tidak memiliki pilihan lain kecuali pindah.”

Aksi kejahatan bernuansa kebencian terhadap Muslim meningkat di London. Tak tanggung-tanggung, menurut statistik Met Police, peningkatan mencapai 70 persen dalam setahun. 

Seperti dikutip BBC, Senin (7/9), berdasarkan data satu tahun terhitung hingga Juli,  kasus kejahatan Islamofobia tercatat sebanyak 816 kasus. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan periode sama tahun lalu 478 kejahatan. 

Dalam laporannya, Met Police memasukkan kategori kekerasan dari serangan langsung hingga perundungan atau aksi bullying di dunia siber. 

Tell MAMA, organisasi yang memantau kejahatan Islamofobia mengatakan, wanita menjadi target utama serangan. Jumlahnya mencapai 60 persen.  Kelompok itu menilai, wanita yang mengenakan jilbab lebih terlihat secara fisik sebagai Muslim. 

“Kami sadar di jalanan wanita paling terlihat, karena mereka mengenakan hijab atau jilbab, dan itu menjadi target sasaran lebih mudah,” ujarnya. “Kami juga sadar wanita yang mengenakan Niqab (penutup wajah) menjadi target serangan lebih agresif.”

Hal senada juga disampaikan aktivis dari Met Police. Ia mengungkapkan terdapat sejumlah alasan Muslimah lebih sering menjadi target. “Secara fisik jelas menyatakan mereka Muslim, dan mereka menjadi target para pengecut,” ujarnya.

Bibel / Alkitab

Bibel / Alkitab terdiri dari 66 bagian yang disebut dengan kitab atau buku, 39 termasuk dalam Perjanjian Lama dan 27 dalam Perjanjian Baru yang diakui oleh seluruh denominasi Kristen, serta kitab tambahan Deuterokanonika yang jumlahnya bervariasi menurut denominasi Kristen (kaum Protestan hanya mengakui ke-66 kitab non-Deuterokanonika).

Berdasarkan isinya dan gaya penulisan, Perjanjian Lama dapat dikelompokkan menjadi 5 bagian utama yaitu Kitab Taurat (5 kitab), Kitab Sejarah (12 kitab), Kitab Puisi (5 kitab), Kitab Nabi-nabi Besar (5 kitab) dan Kitab Nabi-nabi Kecil (12 kitab).

Sementara pengelompokan untuk Perjanjian Baru adalah Kitab Injil (4 kitab), Kitab Sejarah (1 kitab), Surat-surat Rasuli (21 kitab) dan Kitab Wahyu (1 kitab).
Masing-masing kitab atau buku dibagi lagi menjadi beberapa pasal (mulai dari yang paling pendek 1 pasal: Obaja, Filemon, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas; dan yang paling panjang 150 pasal: Mazmur) dan masing-masing pasal dibagi menjadi beberapa ayat (mulai dari yang paling pendek 2 ayat: Mazmur 117; dan yang paling panjang 176 ayat: Mazmur 119).
“Alamat Alkitab” adalah cara yang digunakan untuk memudahkan pencarian lokasi ayat di dalam Alkitab. Kejadian 1:1, misalnya, menunjuk pada ayat pertama pada pasal pertama pada kitab Kejadian, yaitu kitab pertama dalam Alkitab.

Kitab-kitab di Alkitab disusun secara semi-kronologis. Semi-kronologis karena beberapa kitab tidak diketahui waktu penulisannya, dan beberapa lainnya merupakan kumpulan tulisan yang dikelompokkan menurut gaya penulisannya. Kitab Amsal yang ditulis oleh Salomo, misalnya, tidak ditempatkan setelah kitab 1 Raja-raja yang membahas riwayat Salomo, namun dikelompokkan bersama-sama dengan kitab-kitab puisi lainnya. (Ayub, Mazmur, Pengkhotbah, Kidung Agung). Kitab nabi Yeremia yang hidup di zaman raja Yosia, contoh lainnya, tidak ditempatkan setelah kitab 2 Raja-raja yang membahas riwayat raja Yosia, namun bersama-sama dengan kitab-kitab nabi nabi besar lainnya (Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel, dan Daniel. Kitab-kitab lainnya, terutama kitab-kitab sejarah, disusun secara kronologis dan urutannya memengaruhi cara pembacaan agar tidak membingungkan.

Kitab Keluaran, misalnya, tidak dapat dibaca sebelum membaca kitab Kejadian karena pembaca tidak akan mengerti latar belakangnya. Demikian juga kitab Kisah Para Rasul tidak dapat dibaca sebelum membaca keempat kitab Injil, karena kitab-kitab itu merupakan latar belakang penulisan Kisah Para Rasul. Namun beberapa kitab, seperti Amsal dan Pengkhotbah, dapat dibaca secara lepas, walaupun pembaca akan lebih memahaminya jika mengetahui riwayat penulisnya, Salomo, yang dibahas di kitab-kitab sebelumnya (1 & 2 Raja-raja dan 1 & 2 Tawarikh).
Pembagian Alkitab ke dalam buku, pasal, dan ayat, dan pengurutannya merupakan hasil dari kanonisasi oleh bapak gereja mula-mula. Struktur tersebut tidak berubah selama ratusan tahun, namun beberapa terjemahan Alkitab kadang-kadang memiliki konvensi yang sedikit berbeda, misalnya dalam kitab Mazmur Alkitab bahasa Indonesia nama penggubah Mazmur dan judul lagu dijadikan ayat yang pertama dalam suatu pasal, sedangkan dalam bahasa Inggris tidak. Oleh karena itu Alkitab bahasa Indonesia memiliki beberapa puluh ayat lebih banyak dari bahasa Inggris.
Selain itu setiap terjemahan Alkitab memiliki bagian sub-pasal yang disebut dengan perikop, yaitu yang membahas suatu topik tertentu.

Selain itu semenjak dahulu ada diskusi tentang kanon Alkitab: buku apa saja yang bisa dianggap bagian dari Alkitab. Pada abad ke-3 SM, Alkitab Ibrani atau Tanakh diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Terjemahan ini disebut Septuaginta, tetapi memuat sejumlah buku yang tidak terdapat dalam versi Yahudi. Buku-buku ini disebut buku-buku Deuterokanonika

Facebook Page : MKB


Nah Lho….??!

” Pernikahan Dalam Kristen “

Apakah anda homo atau lesbi……?
Atau mungkin anda ingin menikah dengan Hewan…..??

Hanya kristen yg melegalkan pernikahan sesama jenis, atau bahkan pernikahan manusia dengan hewan…

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/06/140620_majalahlain_gereja_pernikahangay

http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-10-07/gereja-anglikan-perth-berikan-dukungan-hubungan-sesama-jenis/1201330

Nah Lho…..??!

 

 

Perdebatannya :  DISINI

 

” Perayaan Natal “

Kutipkan beberapa sumbernya untuk anda.

1.) ”Natal bukanlah di antara upacara-upacara gereja. Bukti awal menunjukkan, bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir.”
(Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul ”Christmas”).

Di Mesir, Dewi Isis (Dewi Langit) diyakini melahirkan anaknya yang tunggal, Osiris, pada tgl. 25 Desember.
Sumber dan awal merayakan Natal tgl. 25 Desember jelas dari Gereja Katolik Roma, dimulai sekitar pertengahan abad ke IV. Namun dengan jujur dan terus terang, gereja Katolik menjelaskan tentang asal mula merayakan Natal itu dari Mesir. Sangat jelas, saudaraku.
==================================================

2.) ”Natal bukanlah upacara yang berasal dari gereja. Yesus Kristus dan murid-murid-Nya tidak pernah menyelenggarakan pesta Hari Ulang Tahun. Alkitab juga tidak pernah mengajurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembahan berhala,”
(Encyclopedia Britanica, terbitan tahun 1946).
===============================================

3.) “Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut..” (“Perjamuan Suci” yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.)

“…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari “Kelahiran Dewa Matahari.” Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.”
(Encyclopedia Americana, th. 1944)
================================

Menurut data / info dari 3 sumber yang akurat tersebut, kita mendapatkan kepastian, bahwa Merayakan Natal mengadopsi dari tradisi orang kafir. Bukan perintah dari Alkitab !

Setelah meneliti dan merenungkan tentang Perayaan Natal, kami akhirnya melihat, muncul beberapa opsi (pilihan) dan sikap.

Yang pertama, tetap mempertahankan Merayakan Natal dengan meriah. Kelompok ini mengambil sikap seperti ini, sebagian karena mereka tidak / belum tahu tentang sejarah atau asal mula, mengapa hari Natal dirayakan dengan meriah.

Sedang sebagian yang lain dalam kelompok ini, mereka sudah mengerti tentang asal usul merayakan Natal. Namun mereka tidak mau tahu dengan sejarah masa lalu. Mereka tidak terpengaruh dengan asal usul merayakan Natal. Bagi mereka, ”Kami merayakan Natal karena dan untuk Yesus Kristus. Kami tidak peduli dengan sejarah masa lalu dan asal usul merayakan Natal di zaman dulu.”

Sikap yang kedua, sepenuhnya bertentangan dengan kelompok yang pertama tadi. Kontradiksi 100% ! Mereka berpendapat, ”Sudah jelas tgl. 25 Desember itu hari penyembahan terhadap Dewa Matahari, mengapa koq diteruskan? Ya dihapus saja !” Jadi, di gereja mereka, Natal sudah tidak dirayakan lagi.

Sikap – ketiga – yang muncul, tetap merayakan Natal, namun tidak harus tepat tgl. 25 Desember. Bisa merayakan Natal dengan memilih mulai tgl. 1 Desember sampai 31 Januari ! Tapi Celebration, jalan terus !

Kelompok ”sikap ke 3” ini punya beberapa kemiripan dengan sikap dari kelompok yang pertama tadi.

Sikap yang keempat adalah mereka yang melihat, bahwa Penginjilan di negara ini sudah semakin sulit. Kesempatan menginjil semakin langka dan amat dipersulit. Terutama di daerah-daerah tertentu.

Merayakan Natal dimanfaatkan untuk Penginjilan terselubung. ”Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati.” Merayakan Natal menjadi ajang dan kesempatan untuk memperkenalkan, siapakah Yesus Kristus itu.

Bahwa IA datang untuk jadi Juru Selamat, Penebus Dosa umat manusia. Istilahnya, yang merayakan Natal, karena mengikuti tradisi, mereka itu ”ditunggangi” oleh Tradisi.

Pertanyaannya buat kristen di MKB ini :  https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=772306389491425&id=137196463002424&notif_t=like
Dari keempat opsi / sikap itu, anda termasuk dalam kelompok yang mana….??

Nah Lho….??!

” Mengapa tanggal 25 Desember…?? “

December-2444951

 

http://edwardgustaf.blogspot.com/2014/12/mengapa-tanggal-25-desember.html#links

” Apa benar tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Yesus Kristus…? “

31241213-nataldanPembebasan

 

 

Para Teolog Kristen berselisih pendapat mengenai tanggal lahir Yesus.

1.) Ralph O. Muncaster, pendeta gereja Saddleback dalam bukunya ‘What Really Happe­ned Charistmas Morning’ menolak pendapat bahwa Yesus lahir pada tahun 1 Masehi dengan merujuk kepada pendapat para ahli lainnya. Menurut Josephus (sejarawan Yahudi), Yesus lahir pada tanggal 14 Maret tahun 4 Sebelum Masehi. Berdasarkan observasi astro­no­­­mis Johannes Kepler, Yesus lahir tahun 7 Sebelum Masehi. Sedangkan Tertulian, Irenaeus, Eusebius (bapak gereja) berpendapat bahwa Yesus lahir pada tahun 2 Sebelum Masehi.

2.) Dr. J.L. Ch. Abineno menjelaskan bahwa Yesus mustahil lahir 25 Desember. Menurutnya, Yesus lahir pada bulan Maret, April atau November.“Gereja-gereja merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Kebiasaan ini baru dimulai dalam abad ke-4. Sebelum itu Gereja tidak mengenal perayaan Natal. Terutama karena gereja tidak tahu dengan pasti kapan –pada hari dan tahun keberapa– Yesus dilahirkan.

Kitab-kitab Injil tidak memuat data-data tentang hal itu. Dalam Lukas pasal 2 dikatakan bahwa pada waktu Yesus dilahirkan, gembala-gembala sedang berada di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (ayat 8). Itu berarti, bahwa Yesus dilahirkan antara bulan Maret atau April dan bulan November” .

 

3.) Pendeta Benyamin Obadyah, alumnus Jerusalem Center, Yerusalem, mengutip pendapat R.A. Honorof dalam bukunya The Return of the Messiah (1997), menyatakan bahwa Yesus lahir pada bulan September. Benyamin menulis: “Meskipun menurut Alkitab Yesus dikandung Maria dari karunia Allah (Lukas 1:35), tapi ia dikandung secara normal selama 40 minggu atau 9,5 bulan.

Ini berarti, Yesus dilahirkan pada akhir bulan September atau awal Oktober dan saat itulah orang Yahudi merayakan Hari Raya Tabernakel… Hari raya ini jatuh setiap tanggal 15 bulan Tishri menurut kalendar Yahudi. Menurut kalendar internasional (Gregorian), tahun 1999 tanggal 15 Tishri bertepatan dengan tanggal 25 September. Jadi, umat Kristen yang memperingati Natal 25 Desember terlambat selama tiga bulan.”

 

4.) Ephiphanius dan Gereja Orthodox Timur memperingati Natal tanggal 6 Januari, lalu Gereja Katolik Ortodoks memperingati Natal tanggal 7 Januari, sedangkan Gereja Armenian memperingati Natal tanggal19 Januari.

Dari berbagai versi tanggal Natalan tersebut, tak satupun yang bisa dipercaya. Tabloid Victorius edisi Natal pernah mengungkapkan keheranannya tentang Natal yang misterius: “Entah kapan dan siapa tokoh pencetus hari Natal, hingga sekarang masih dicermati.

 

Apa benar tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Yesus Kristus…?

 

 

Nah Lho….??!

” Kontroversi Bibel Tentang Kelahiran Yesus “

anos-perdidos-jesus-navidad-L-FZLf1F

 

Untuk menyibak tabir Natal pada tanggal 25 Desember yang diyakini sebagai Hari Kelahiran Yesus, marilah kita simak apa yang diberitakan oleh Bibel tentang kelahiran Yesus sebagaimana dalam Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1,10,11 (Markus dan Yohanes tidak menuliskan kisah kelahiran Yesus).

Lukas 2:1-8:
”Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.

Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.

Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galelilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud- supaya didaftarkan bersama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung.

Ketika mereka disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lapin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka dirumah penginapan.

Didaerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjanga kawanan ternak mereka pada waktu malam.”

=========================

Jadi, menuru Bibel, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu yang sedang melaksanakan sensus penduduk (7M=579 Romawi).

Yusuf, tunangan Maryam ibu Yesus berasaldari Betlehem, maka mereka bertiga ke sana, dan lahirlah Yesus di Betlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampan dan membaringkannya dalam palungan (tempat makan sapi, domba yang terbuat dari kayu).
Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.

Menurut Matius 2:1, 10, 11
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masukalah mereka kedalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibunya.

Jadi menurut Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintah tahun 37 SM- 4 M (749 Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.

Cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus.

Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengn bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari.

Nah Lho………??!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 823 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: